info@scadindependent.org Banda Aceh, Indonesia

Independent, non-partisan, and non-profit research and social organisationLembaga riset dan sosial yang independen, non-partisan, dan nirlaba

SCAD Independent

Advancing Knowledge, Empowering Humanity

An independent, non-partisan, and non-profit organisation turning evidence-based knowledge into real action for science, sustainable development, and humanity.Lembaga independen, non-partisan, dan nirlaba yang mentransformasikan pengetahuan berbasis bukti menjadi aksi nyata bagi ilmu pengetahuan, pembangunan berkelanjutan, dan kemanusiaan.

About SCAD IndependentTentang SCAD Independent

Knowledge that does not stop as an academic product.Ilmu yang tidak berhenti sebagai produk akademik.

SCAD Independent is dedicated to advancing knowledge and society through research, scholarly publication, capacity building, community engagement, strategic partnership, and digital transformation. Grounded in independence, integrity, and scientific excellence, we transform knowledge into a force for social change, stronger institutions, evidence-based policy, and lasting benefit for humanity.SCAD Independent didedikasikan untuk memajukan ilmu pengetahuan dan sosial melalui penelitian, publikasi ilmiah, pengembangan kapasitas, pengabdian kepada masyarakat, kemitraan strategis, dan transformasi digital. Berlandaskan independensi, integritas, dan keunggulan ilmiah, kami mentransformasikan pengetahuan menjadi kekuatan perubahan sosial, penguatan kelembagaan, kebijakan berbasis bukti, dan kemaslahatan bagi kemanusiaan.

112+MembersAnggota
7Work unitsUnit kerja
27+Provinces reachedProvinsi terjangkau
20+Research fieldsBidang riset
IAOAccredited since 2014Terakreditasi sejak 2014
RORRegistered in the Research Organization RegistryTerdaftar di Research Organization Registry

What we doApa yang kami kerjakan

Six fields, one integrated ecosystem.Enam bidang, satu ekosistem terpadu.

See our programmes & studies →Lihat program & kajian kami →

Research & InnovationPenelitian & Inovasi

Integrity-driven research, innovation, and policy studies that respond to scientific, social, and development challenges.Riset, inovasi, dan kajian kebijakan berintegritas untuk menjawab tantangan ilmu pengetahuan, sosial, dan pembangunan.

Scholarly Publication & CommunicationPublikasi & Komunikasi Ilmiah

Reputable journals and books, open access, and an ethical, collaborative publishing ecosystem.Jurnal dan buku bereputasi, akses terbuka, serta ekosistem publikasi yang etis dan kolaboratif.

Capacity DevelopmentPengembangan Kapasitas

Training, mentoring, and certification that strengthen individuals and institutions.Pelatihan, pendampingan, dan sertifikasi untuk memperkuat individu dan kelembagaan.

Community Engagement & Humanitarian ActionPengabdian Masyarakat & Kemanusiaan

Applying knowledge with communities, from empowerment programmes and social innovation to humanitarian and disaster response.Menerapkan ilmu bersama masyarakat, dari program pemberdayaan dan inovasi sosial hingga aksi kemanusiaan dan tanggap bencana.

Strategic PartnershipKemitraan Strategis

National and international collaboration and academic diplomacy with universities, government, and civil society.Kolaborasi nasional dan internasional serta diplomasi akademik dengan perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat sipil.

Digital TransformationTransformasi Digital

Technology and digital platforms that make research and publishing more open and accessible.Teknologi dan platform digital yang membuat riset dan publikasi lebih terbuka dan mudah diakses.

Who we serveSiapa yang kami layani

Knowledge for everyone who builds it.Pengetahuan bagi semua yang membangunnya.

Lecturers & researchersDosen & peneliti
StudentsMahasiswa
Teachers & practitionersGuru & praktisi
Universities & educational institutionsPerguruan tinggi & lembaga pendidikan
Government agenciesInstansi pemerintah
Communities & civil societyMasyarakat & organisasi masyarakat sipil
International organisations & development partnersOrganisasi internasional & mitra pembangunan
Private sector & philanthropySektor swasta & lembaga filantropi

Partner with us for research and impact.Bermitra bersama kami untuk riset dan dampak.

Join SCAD Independent to support open research, community knowledge, and informed social advocacy.Bergabunglah dengan SCAD Independent untuk mendukung riset terbuka, pengetahuan masyarakat, dan advokasi sosial berbasis bukti.

Our networkJejaring kami
Oleh: Sahari Ganie

SAMPAI beberapa hari ke depan, seluruh lapisan masyarakat di Aceh akan menyaksikan satu prosesi penting tahapan pemilukada, yakni masa kampanye. Kegiatan komunikasi resipokral mutualis antara komunikator politik (juru kampanye) dan komunikan politik (calon pemilih).

Selama kampanye variabel komunikasi memainkan peran esensial dalam demokrasi. Batasan demokrasi pun banyak ditentukan oleh interaksi komunikasi politik. Komunikasi politik juga menentukan watak dan mutu demokrasi suatu masyarakat. Tingkat perkembangan demokrasi sangat banyak bergantung pada struktur dan ciri sistem komunikasi tersebut (Alwi Dahlan, 1999).

Futurlog ternama dunia Alvin Toffler, juga menyatakan di era abad kecanggihan teknologi informasi masa kini, pihak yang menguasai, mengendalikan informasi dan komunikasi akan dapat pula menguasai dan mengendalikan dunia. Pola hubungan tersebut berlangsung di tengah proses aktivitas demokrasi, dalam ruang lingkup suatu sistem politik dan antara sistem tersebut dengan lingkungannya (Fagen, 1966).

Aktivitas komunikasi politik juga bertalian dengan proses peyampaian informasi politik, pesan-pesan politik, persuasi politik, dan sosialisasi politik, melalui medium orasi politik, simbol politik, perilaku politik, dan publikasi media massa. Dari deskripsi konsep-konsep komunikasi di atas, menempatkan kampanye sebagai faktor dan aset strategis setiap kandidat.

 Komunikasi politik cerdas
Pelaksanaan kampanye Pemilukada Aceh 2012 ini, hendaknya dapat ditumbuh-kembangkan komunikasi politik cerdas. Suatu komunikasi politik yang menuju pada pencerahan intelektual, dan pengayaan wawasan publik pemilih. Bukan komunikasi politik negatif yang bercorak pembodohan dan pembohongan publik pemilih, pola yang dulu lazim dipraktekkan para komunikator politik rezim Orde Baru, dengan pesan-pesan politik yang sarat nuansa agitasi, konfrontasi dan adu domba massa pemilih.

Dalam diskursus komunikasi politik, komunikator politik negatif dikenal dengan propagandis Machiavellis yang menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan tunggal yakni pemenangan kandidatnya semata. Sebaliknya, gaya komunikator politik cerdas bercirikan empati sosial dan fokus menjaga kohefitas masyarakat luas.

Seyogyanya para tim sukses setiap kandidat, dalam masa kampanye mengutus komunikator-komunikator politik profesional yang cerdas, berorientasi program, dan memiliki sensitifitas konflik. Bukan menerjunkan rombongan komunikator kelas “warung kopi jalanan”, yang

hanya bisa mengungkap sisi buruk dan fitnah politik sarkastik (black campaign) terhadap kandidat pesaing, sehingga memicu anarkisme massa yang bermuara pada konflik horizontal sesama pemilih.

Dalam konteks realitas sosial politik masyarakat Aceh, yang kini dalam masa transisi damai (transitional peace society), harus dicegah berkembangnya komunikasi negatif destruktif tersebut, karena membayakan stabilitas politik lokal dan dapat mengancam perdamaian yang berkelanjutan (sustainable peace) di Aceh.

Lembaga think tank pemilu bereputasi internasional IFES (the International Foundation for Electoral Systems), menyebutkan masa kampanye sebagai fase pemilu paling kritis karena sangat rawan konflik (IFES Report, 2007). Pada rentang waktu inilah, massa pemilih setiap hari dijejali dengan berbagai informasi yang kadangkala tidak akurat dan menyesatkan.

 Deklarasi kampanye damai
Kesepakatan para kandidat kepala daerah Aceh beberapa waktu lalu itu baru sebatas komitmen seremonial belaka, belum bisa menggaransi terciptanya pemilukada Aceh yang damai, jujur dan adil. Beberapa kasus teror, intimidasi dan pembakaran atribut maupun mobil tim sukses pascadeklarasi itu, memperkuat asumsi tersebut. Oleh karena itu, masih dibutuhkan satu tindakan lanjutan yang lebih konkret di lapangan.

Para pemangku (stakehoder) yang bertanggung jawab atas pemantauan setiap tahapan pelaksanaan kampanye, khususnya Panwaslu, dan Polri perlu lebih proaktif melakukan tindakan preventif terhadap pelaku kriminal tersebut. Termasuk juga pengawasan atas para juru kampanye yang berwatak machiavellis. Kelompok ini minim sensifitas konflik dan kepedulian pada penciptaan perdamaian di masyarakat. Ini berbahaya bagi kelompok bagi kategori pemilih akar rumput yang mayoritasnya irrational voter yang sikap politiknya lebih didorong faktor emosional, dibanding analisis politik rasional. Sehingga mudah sekali tersulut oleh isu-isu propaganda agitatif yang berpeluang konflik.

Pengalaman pemilu di beberapa wilayah bekas konflik, membuktikan pesta demokrasi banyak diwarnai kekerasan politik antar-pendukung kandidat. Kasus pemilu presiden Timor Leste 2007, contoh konkret yang mungkin relevan sebagai pembelajaran bagi pemilukada Aceh 2012. Pemilu di bekas koloni Portugal itu disertai konflik horizontal berdarah antara sesama mantan kombatan. Kelompok massa Fretilin dipimpin Mari Alkatiri yang mendukung capres Francisco Guterres bentrok dengan massa CNRT di bawah Xanana Gusmao yang mendukung capres Ramos Horta.

Sebagian kalangan di dalam maupun di luar Aceh berkeyakinan pemilukada kedua Aceh ini akan berlangsung aman dan damai. Pandangan optimis ini mengacu pada Pilkada 2006 yang berlangsung relatif aman dan minim kekerasan. Namun jika melihat situasi dan kondisi politik Aceh dewasa ini, pandangan tersebut masih perlu dieksplorasi lebih lanjut. Konstruksi politik lokal Aceh hari ini sudah berubah drastis, dan sangat kontras dengan situasi Pilkada Aceh 2006.

Dinamika politik lokal saat itu cukup kondusif, diliputi suasana euforia damai hasil MoU Helsinki. Relasi politik internal GAM pun sangat interaktif, solid dan kohesif. Seluruh aspirasi politik GAM bernaung di bawah payung politik tunggal KPA. Namun disain peta politik Aceh pada 2012 ini yang sudah terbelah dua akibat rivalitas kepentingan elite yang dibayangi potensi kekerasan. Jika dibahasakan dalam konteks kearifan lokal, periode 2006 bisa disebut sebagai fase sapeu pakat (konvergensi), sedangkan periode 2012 adalah fase laen keunira (divergensi).

Pada aras inilah kampanye berbasis komunikasi politik cerdas menjadi signifikan dan urgen dioperasionalkan secara efektif dalam Pemilukada Aceh kali ini. Memberi ruang edukasi, aspirasi dan partisipatif, yang mencerdaskan dan memperkaya pengetahuan pemilih. Segala potensi konflik horizontal sesama aneuk nanggroe selama kampanye pun dapat dihindarkan. Sehingga harapan Pemilukada Aceh kali ini akan berlangsung dalam kedamaian dan harmoni demokrasi serta jalinan persahabatan sesama partisipan, bukanlah sekadar mimpi politik belaka.

* Sahari Ganie, Senior eksekutif Pintoe Komunika, Communications Consulting/Dosen luar biasa FISIP Unsyiah.

Tulisan ini sudah dipublikasikan oleh Harian Serambi Indonesia, pada Kamis 29 Maret 2012
Kampanye dan Komunikasi Politik - Serambi Indonesia

Popular posts from this blog

INTEGRATE SOCIAL JUSTICE INTO THE MATHEMATICS CURRICULUM IN LEARNING

Bandit Politik