Perempuan Aceh, Kekuatan Demokrasi Tersembunyi

Oleh: Daspriani Y. Zamzami

TAK perlu heran, jika partisipasi perempuan selaku politisi untuk ikut sebagai kontestan dalam pemilukada di Aceh April 2012 kemarin, ternyata sangat sedikit, bahkan mungkin lebih sedikit dari pemilu legislatif sebelumnya. Alasannya masih sama, kurang kuatnya dukungan terhadap calon-calon politisi perempuan, bahkan dari kaum perempuan itu sendiri, hingga rasa kurang percaya diri dan tidak diberi kepercayaan oleh pihak laki-laki.

Politik di antara kekuatan dan sedikit kelicikannya memang memberi apriori kepada kaum perempuan, termasuk perempuan di Aceh. Tak sanggup menjalankan demokrasi dengan hal-hal yang di luar kekuatan dan rasa kemanusiaan serta kejujuran, juga menjadi alasan ketidakmampuan atau bisa dikatakan ketidak setujuan kaum perempuan untuk bermain diranah politik. Namun demikian, jika ditilik lebih jauh kedalam, justru kiprah-kiprah demokrasi lebih banyak dilakukan perempuan dalam kesehariannya.

Hal yang paling kecil sangat terlihat bagaimana ketika para kaum peremuan ini kemudian berkumpul bersama disebuah kelompok pengajian atau kelompok “diskusi” harian di pedesaan. Di sana mereka biasa membahas suatu masalah dan kemudian mencari solusinya. Muncul menjadi pemimpin di rumah tangga manakala suami tak lagi mampu atau bahkan tidak ada lagi sama sekali, dilakukan langsung tanpa harus menunggu instruksi dari siapa pun. Kemudian memberi dan membagi tugas kepada anak-anak di rumah agar kehidupan rumah tangga bisa berjalan dengan baik, walau harus tertatih. Tugas-tugas memimpin seperti ini sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas kehidupan perempuan.

 Praktik demokrasi
Di sebuah desa di pelosok Kabupaten Aceh Selatan, saya juga menemukan ada banyak praktik demokrasi yang dilakukan kaum perempuan tidak hanya untuk kaumnya sendiri, bahkan untuk seluruh komponen masyarakat. Saya menemukan sosok Bunyani, perempuan muda yang aktif menjadi anggota tuha peut di desanya. Keberadaan Bunyani dalam kelompok tuha peut ini memberi angin segar dan kemudahan bagi masyarakat Desa Alay, Kecamatan Kluet Timur, Kabupaten Aceh Selatan, khususnya kaum perempuan. Dimana mereka merasa lebih nyaman menguraikan sesuatu yang menjadi masalah bagi mereka baik dalam keluarga maupun dalam kehidupan sosial lainnya.

Sosok lain yang pernah saya temui juga adalah sosok Raibah. Banyak hal yang kini digeluti Raibah di tengah warga, yang membangun spirit kebersamaan dan kebijaksanaan serta membangun jiwa kepemimpinan dilingkungan masyarakat didesanya. Antara lain, ia menjadi paralegal bagi warga desanya, sehingga setiap permasalahan bisa diselesaikan dengan hukum, baik itu hukum adat maupun hukum positif. Masyarakat menjadi melek hukum. Raibah juga menjadi anggota Forum Pala sebuah organisasi petani pala ditempatnya, dan menjadi Ketua koperasi sukses di desanya, Desa Kemumu Hulu, Kecamatan Labuhan Haji Timur.

Kedua perempuan ini mulai berpikir, memajukan rakyat, menyamakan perlakuan didalam aktifitas mereka sebagai warga, serta memberi pendidikan yang lebih maju, adalah bagian dari demokrasi, tanpa harus berpolitik. Jadi politik tak sekadar urusan perburuan kekuasaan semata, tapi juga sebagai panggilan (perasaan) kemanusiaan. Persis pada titik inilah relevansi serta urgensi kebangkitan nalar kekuasaan perempuan Aceh ini.

Untuk itu para perempuan “perkasa” ini harus betul-betul melakukan persiapan yang matang dan sungguh-sungguh dalam me-manage aktifitas kesehariannya dala mengurus berbagai kebutuhan masyarakat sekitarnya, yang terkait dengan upaya penyelesaian persoalan mendasar masyarakat dan kepemimpinan. Makin majunya zaman, tentu semakin tinggi pula tantangan global yang harus dihadapi kaum perempuan.

Hal ini dibuktikan dengan mulai maraknya aktivitas perempuan, meski baru hanya tingkat gampong (desa). Adanya perempuan-perempuan pemegang jabatan sebagai tuha peut, kepala desa, bahkan camat, hingga aktifis pos yandu dan PKK, mulai membuka tirai kelamnya ruang demokrasi bagi perempuan di Aceh. Bahkan aktivitas musyawarah rencana aksi perempuan (Musrena), perempuan tidak lagi hanya menjadi obyek dari pembangunan, melainkan subyek dari pembangunan di kawasan tersebut. Kondisi ini tentunya memberi pencerahan terhadap perkembangan perempuan dan kekuatan demokrasi yang dimiliki oleh kaum hawa ini.

 Menanamkan kesadaran
Masrizal MA, seorang pengamat politik dan akademisi, dalam sebuah tulisannya menyatakan, tiga upaya yang bisa diberikan kepada perempuan dalam menghadapi tantangan global: Pertama, Upaya menanamkan kesadaran pada perempuan untuk menghargai dirinya sebelum dihargai orang lain. Hal ini bisa dilakukan baik melalui pendidikan formal maupun informal. Melalui pendidikan dihadapkan perempuan memperoleh ilmu dan keteladanan. Sehingga dengan ilmu dan keteladanan itu, mereka bisa menggali dan menumbuhkembangkan potensi dirinya. Ketika potensinya berkembang maka akan melahirkan kemandirian;

Kedua, Upaya mengamalkan ajaran agamanya. Agama memberikan panduan kepada perempuan tentang bagaimana mereka mesti bersikap dalam mengarungi kehidupan ini. Melalui tuntunan ajaran agama para perempuan akan terselamatkan dari berbagai perbuatan yang tidak bernilai manfaat bahkan tercela. Perempuanpun bisa berkontribusi dalam kehidupannya secara seimbang di berbagai bidang kehidupan baik domestik maupun publik sesuai dengan tuntutan agama. Dengan tuntunan agama itulah perempuan akan terus bisa berkontribusi untuk membangun bangsa ini menjadi lebih baik;

Ketiga, meningkatkan kapasitas perempuan. Setelah para perempuan sadar akan kondisinya, dan mengamalkan ajaran agamanya, maka dalam hal ini pemerintah ataupun lembaga sosial perlu sejak dini meningkatkan kapasitas perempuan sesuai dengan hasil pemetaan sumberdaya yang telah dilakukan. Perempuan adalah aset bangsa yang diharapkan bisa menjadi pilar dalam memajukan bangsa. Ketika kapasitas mereka meningkat, Insya Allah kontribusinya juga akan semakin meningkat.

Keberhasilan perempuan menghadapi berbagai tantangan zaman ditandai dengan terhindarnya perempuan dari korban budaya, life style dan konsumeristik. Untuk itu, perlu terus didorong agar perempuan meningkatkan wawasan keilmuan. Perempuan pun harus mampu mempersiapkan generasi yang dapat merubah peradaban ini menjadi bermartabat. Suksesnya perempuan juga tidak terlepas adanya lingkungan yang kondusif, serta adanya keseimbangan dalam peran di sektor domestik dan publik yang memang keduanya penting.

Disadari atau tidak, inilah potensi yang tersembunyi, yang ternyata memiliki kekuatan dahsyat untuk membentuk suatu wilayah yang tangguh dan bermartabat. Sepertinya kita tidak perlu menunggu, untuk memunculkan kekuatan ini menjadi sebuah gelombang pembangunan yang luar biasa, untuk menuju masyarakat yang sejahtera dan daerah yang madani. Semoga!

* Daspriani Y. Zamzami, Jurnalis di Banda Aceh. Email: yayanz@gmail.com

Tulisan ini telah dipublikasikan dalam kolom OPINI Harian Serambi Indonesia,Rabu 17 Oktober 2012

Perempuan Aceh, Kekuatan Demokrasi Tersembunyi - Serambi Indonesia