Masa Depan Parlok

Oleh: Azwir Nazar ---

TEKAD Irwandi Yusuf membentuk Partai Nasional Aceh (PNA) patut diapresiasi. Partai lokal yang didukung 17 mantan panglima GAM ini akan menjadi kekuatan politik baru di Aceh. Bila lulus verifikasi administrasi dan faktual, maka akan dapat mengikuti Pemilu Legislatif 2014. Selain PNA, muncul nama PDA, Partai SIRA Perjuangan, dan Partai SIRA jilid II.

Wacana pembentukan partai lokal (parlok) Irwandi Yusuf ini sudah lama disuarakan. Pada 16 Februari 2012 lalu, di Hermes Palace mereka menggelar konsolidasi eks panglima wilayah. Sofyan Daud, mantan Jubir Komando Pusat GAM juga telah berbicara lantang di media. Malah, awalnya partai ini ingin dideklarasi sebelum Pilkada Aceh 9 April lalu.

Munculnya partai lokal baru di Aceh akan menarik bagi konstelasi politik dan preferensi pemilih Aceh pada 2014. Di tengah pertanyaan besar akan nasib partai-partai lokal pasca-Pemilu Legislatif 2009. Sebab, hanya PA yang memperoleh 46,91% (33 kursi DPRA dari 69), Partai Daulat Aceh 1,85% (1 kursi DPRA), Partai SIRA 1,78%, PRA 1,70% dan PBA 0,77%. Artinya, selain PA tidak ada partai lokal lain yang mencapai 3% sebagai batas ambang parliaments threshold.

Sejarah
Lahirnya partai lokal tidak terlepas dari perundingan damai antara Pemerintah RI dan GAM, 15 Agustus 2005 di Helsinki, Finlandia. Ini juga menandakan babak baru demokrasi Indonesia yang terus berkembang pascareformasi. Di mana pendekatan militeristik dan kekerasan tidak lagi mendapatkan tempat. Dominasi militer terhadap penyelesaian konflik bukan solusi penyelesaian masalah yang muncul di daerah. Demokrasi menuntut kesetaraan dan kebebasan berekspresi secara luas dengan menghargai segala perbedaan.

 Instrumen politik

Partai lokal menjadi instrumen politik resmi dan legal para pihak di Aceh untuk berjuang menyuarakan aspirasi mereka. Ia muncul sebagai bentuk implementasi klausul MoU Helsinki pada point 1.2.1. Kemudian dikeluarkannya PP Nomor 20 Tahun 2007 dan juga diakomodir dalam UU Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh pada Bab XI.

Hadirnya parlok mempertegas era transformasi perjuangan rakyat Aceh dari era perang menuju transisi dan proses politik. Era damai ini memenangkan semua harapan rakyat dan para pihak yang bertikai. Bagi rakyat, damai ini adalah rahmat yang sudah lama dinantikan. Para pihak pun berkomitmen mewujudkan perdamaian abadi di Aceh dengan melaksanakan semua klausul-klausul yang disepakati dalam perundingan.

Kenyataannya, Pemilu 2009 PA menang telak dan menguasai parlemen Aceh. Partai lokal lain seperti tenggelam dalam dinamika politik Aceh yang keras. Banyak faktor yang menyebabkan mereka terhempas dan kalah secara tragis. Selain faktor internal, seperti waktu, SDM, logistik, mesin partai, juga persoalan strategi. Faktor eksternal juga sangat banyak. Masing-masing wilayah juga berbeda.

Sudah sepatutnya dengan belajar dari pengalaman kekalahan partai-partai lokal pada Pemilu 2009 lalu, PNA, PDA, Partai Sira Perjuangan, maupun Partai Sira Jilid II harus mampu menunjukkan diferensiasi dan membangun identitas. Terutama dengan Partai Aceh, sebagai pemenang dan lawan tangguh. Apalagi saat ini PA juga tidak saja menguasai parlemen, namun juga menguasai eksekutif baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.

Diferensiasi yang saya maksudkan adalah sebuah partai yang mampu menunjukkan posisi khas, jelas, meaningfull dan mempertegas perbedaan dengan yang lain. Sehingga perbedaan itu bernilai penting, istimewa ataupun superior dengan partai pesaing. Dengan demikian, akan mampu menunjukkan integritas dan citra sebuah partai baru. Lalu, pemilih pun akan mudah menjatuhkan pilihan terhadap partai tersebut.

 Memiliki karakter
Selain itu, partai politik harus memiliki karakter. Less Marshment (2001) membagi tiga karakter partai: Partai berorientasi product (Product oriented party); Partai berorientasi penjualan (Sales oriented party), dan; Partai berorientasi pasar (Market oriented party). Pilihan karakter ini yang harus dimiliki oleh sebuah partai. Jangan menjadi partai abu-abu. Ini penting nantinya dalam pemasaran produk politik sebuah partai.

Sehingga, partai tidak saja berorientasi jangka pendek yaitu ikut pemilu. Tapi partai harus menjadi sebuah gerakan perubahan.Punya mimpi untuk Aceh 20 tahun mendatang misalnya. Di tengah skeptisnya masyarakat akan prilaku elite politik yang ada, partai lokal masih memiliki masa depan untuk mensejahterakan masyarakat terutama di Aceh sebagai satu-satunya daerah di Indonesia yang memiliki partai lokal.

Tentu dengan visi yang tegas dan jelas. Sebab, tanpa diferensiasi, identitas maupun karakter, maka partai-partai lokal baru hanya menjadi kontestan penggembira pada Pemilu Legislatif 2014 nanti, tanpa mampu meraup atau merebut suara signifikan, apalagi menang pada pemilu mendatang.

* Azwir Nazar, Mahasiswa Pascasarjana Komunikasi Politik Universitas Indonesia (UI) Jakarta.

Tulisan ini telah dimuat di harian serambi Indonesia,  pada hari Rabu tanggal 9 Mei 2012
Masa Depan Parlok - Serambi Indonesia